Maneki neko

Arti Warna dan 8 Versi Sejarah Maneki Neko

Fun

Maneki neko artinya kucing pengundang, berasal dari kata menaku (mengundang/menyapa) dan neko (kucing). Berupa pajangan patung kucing dengan satu atau dua tangan diangkat. Ada yang tangannya statis dan ada yang bisa bergerak-gerak melambai ke depan belakang.

Patung maneki neko banyak dipajang di tempat usaha orang Tionghoa dan Jepang. Dia dipercaya membawa keberuntungan. Patung kecil ini sangat populer di Jepang dan setiap tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Maneki Neko.

Arti Warna Maneki Neko dan Kepercayaan Lainnya

Arti warna maneki neko
6 warna maneki neko

Patung maneki neko mempunyai beberapa variasi warna yang masing-masing mempunyai arti tersendiri:

  1. Calico (tiga warna): dipercaya paling membawa keberuntungan.
  2. Emas: mempunyai arti kemakmuran dan kekayaan.
  3. Hijau: artinya kesehatan yang bagus.
  4. Hitam: menolak roh jahat.
  5. Merah: kesuksesan di cinta dan hubungan.
  6. Putih: melambangkan kemurnian, kebahagiaan, dan mendatangkan hal-hal baik.

Maneki neko ada yang tangannya diangkat satu saja, ada yang dua-duanya. Jika patungnya tangan kanannya yang diangkat diharapkan akan mengundang uang dan nasib baik. Jika tangan kiri yang diangkat dimaksudkan untuk mendatangkan pelanggan.

Jika kedua tangannya diangkat artinya untuk mengundang uang, nasib baik, dan pelanggan. Juga mengandung arti dan harapan untuk mendapatkan perlindungan.

Patung maneki neko biasanya juga memegang sesuatu di tangannya:

  • Botol/tempat minum dari labu, dimaksudkan untuk mengusir roh jahat.
  • Ikan mas melambangkan nasib baik dan kelimpahan.
  • Koin emas Jepang kuno dari jaman Edo senilai 1 ryo. Pada masanya 1 ryo nilainya cukup besar, berat koin emasnya sekitar 15-16 gram. Melambangkan kemakmuran.
  • Labu atau lobak melambangkan keberuntungan dan kekayaan.
  • Palu uang yang dimaksudkan untuk menarik kekayaan.
  • Permata dimaksudkan sebagai penarik uang.

Maneki neko mempunyai hiasan kalung dan lonceng di lehernya. Ini mungkin meniru kebiasaan dahulu di jaman Edo dimana kucingnya orang kaya biasanya diberi kalung merah yang dipasangi bel.

Sejarah Maneki Neko

Tidak ada yang tahu kapan pastinya maneki neko muncul pertama kali. Pendapat yang paling populer adalah ia sudah ada sejak jaman Edo (1603-1867). Banyak versi legenda asal-usul maneki neko, berikut beberapa yang saya temukan:

Derma Ii Naotaka

Kastil Hikone
Kastil Hikone

Sekitar tahun 1620, kuil Gotokuji di Setagayaku, Tokyo, dalam keadaan yang mengenaskan karena kekurangan keuangan. Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari berburu burung, seorang daimyo (penguasa daerah) dari Hikone bernama Ii Naotaka melihat seekor kucing di kuil Gotokuji melambaikan kaki depannya. Ia pun memenuhi panggilan si kucing dan beristirahat di kuil.

Lalu tiba-tiba hujan turun dan disusul guntur yang besar. Ii Naotaka sangat senang terhindar dari basah kuyup sehingga dia menyumbangkan sejumlah besar uang ke kuil.

Kuil Gotokuji kemudian menjadi kuil pelindung untuk keluarga Ii. Berikutnya patung maneki neko yang besar dibangun di kuil tersebut dan patung versi kecilnya mulai dijual sebagai suvenir.

Versi Lain Ii Naotaka

Di Tokyo ada seorang biksu miskin yang tinggal di kuil Gotokuji, yang hendak menutup kuil karena kekurangan dana. Suatu hari dia melepas kucing peliharaannya agar menemukan majikan baru yang mampu merawatnya dengan lebih baik. Tetapi kucingnya setia dan tetap tinggal bersamanya.

Suatu malam datang badai petir. Ii Naotaka yang sedang dalam perjalanan kebetulan melewati kuil. Ia terkejut melihat kucing milik si biksu di dalam kuil melambaikan kaki depan padanya, seolah memanggilnya mendekat.

Ii Naotaka pun memasuki kuil, seketika sebatang pohon disambar petir dan tumbang di tempat di mana dia tadi baru saja berdiri. Daimyo itu merasa hidupnya diselamatkan oleh si kucing. Ia pun kemudian menyumbang beras ke kuil dan menjadikannya kuil untuk keluarga petinggi.

Naotaka Versi Ketiga

Kuil Gotokuji sangat miskin dan rusak di sana-sini, ketua kuilnya memelihara seekor kucing. Suatu hari kucing itu duduk di pinggir jalan di saat hujan lebat. Lalu muncullah beberapa orang samurai.

Si kucing menatap mereka dan mengangkat salah satu kaki depannya ke telinga, seolah-olah memanggil mereka. Para samurai mengikuti kucing itu ke dalam kuil dan berteduh untuk beberapa lama.

Tak lama setelah kejadian itu salah seorang samurai bernama Ii merasa berterima kasih dan menempatkan kuil itu di bawah perlindungannya. Ii menghadiahi kuil sebidang tanah yang luas. Keluarga Ii kemudian dimakamkan di area kuil di mana di dekat area pemakaman itu terdapat kuil kecil maneki neko.

Bangsawan Kaya yang Berteduh

Dikisahkan seorang bangsawan kaya saat hujan badai berteduh di bawah sebuah pohon di dekat kuil. Dia melihat seekor kucing milik pendeta kuil yang melambaikan kakinya seolah memanggilnya masuk ke kuil.

Ia pun masuk ke kuil dan dalam sekejap petir menyambar pohon tempatnya tadi berteduh. Karena nyawanya diselamatkan oleh kucing, bangsawan itu berteman dengan pendeta yang miskin.

Ia berderma dan membuat kuil menjadi makmur. Saat bangsawan itu meninggal sebuah patung kucing dibuat untuk menghormatinya.

Kucing Peliharaan Geisha

Seorang geisha bernama Usugumo yang hidup di sebuah rumah bordil di Yoshiwara, Tokyo bagian timur, mempunyai seekor kucing yang ia sayangi. Suatu malam kucing itu menarik dan menyentak kimononya.

Apapun yang dilakukan Usugumo, kucingnya tetap bandel dan menarik kimononya. Pemilik rumah bordil yang melihatnya percaya bahwa kucing itu kerasukan dan memenggal kepala kucing dengan pedang.

Kepala si kucing terlontar ke langit-langit, menimpa seekor ular dan membunuh ular itu. Salah satu pelanggan Usugumo membuat patung kucing dari kayu yang mirip kucingnya untuk menghiburnya, karena geisha itu sangat sedih kehilangan kucingnya. Patung itu konon cikal bakal maneki neko.

Kucing Rumah Makan

Pemilik rumah makan yang miskin suatu hari menyelamatkan seekor kucing yang terlantar dan kelaparan. Kucing itu dipelihara, dirawat, dan disayangi.

Si kucing punya kebiasaan duduk di depan rumah makan dan melambaikan kaki depannya memanggil orang yang lewat. Orang-orang yang lewat itu pun mampir ke rumah makan. Akhirnya rumah makan itu laris dan pemiliknya menjadi makmur.

Kucing yang Dimarahi

Pada bagian barat Tokyo ada seorang pendeta yang memarahi kucingnya karena tidak punya peran pada kuilnya. Suatu hari seorang penguasa daerah setempat berdiri di bawah sebuah pohon di depan kuil.

Penguasa itu melihat si kucing melambaikan kakinya mengundang untuk masuk ke kuil. Begitu dia memasuki kuil pohon tempatnya berdiri disambar petir. Si penguasa berterima kasih pada kucing karena menyelamatkan nyawanya dan membantu memakmurkan kuil.

Kucing di Imado

Seorang wanita tua yang hidup di Imado, Tokyo bagian timur, terpaksa menjual kucingnya karena dirinya terlalu miskin. Setelah kucingnya dijual ia mengalami mimpi-mimpi dimana kucingnya menyuruhnya untuk membuat patung kucingnya dari tanah liat.

Wanita itu melakukannya, membuat patung kucing dan menjualnya. Ternyata patung-patungnya laris sehingga dia menjadi kaya.

Maneki Neko Sekarang

Maneki neko di kuil Gotokuji
Maneki neko di kuil Gotokuji

Kuil (temple/kuil Buddha) Gotokuji masih berdiri sampai saat ini dan di areanya terdapat kuil (shrine/kuil Shinto) untuk maneki neko. Kuil maneki neko ini mempunyai pagoda, paviliun, dan pemakaman klan Ii. Juga mempunyai ratusan patung maneki neko yang bisa dibeli oleh pengunjung.

Maneki neko sekarang kebanyakan terbuat dari keramik atau plastik. Bentuknya tidak hanya patung tapi juga gantungan kunci, celengan, pot, dan lainnya. Fungsinya bukan lagi cuma untuk mendatangkan keberuntungan tapi ada juga yang memajangnya sebagai hiasan saja.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *